PANGANDARAN, Dinamikareview.com — Jembatan Sodongkopo di Kabupaten Pangandaran kini menjadi simbol baru peningkatan konektivitas wilayah selatan Jawa Barat. Meski belum diresmikan secara seremonial oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, jembatan ini telah difungsikan sejak 1 Januari 2026 dan mulai dimanfaatkan masyarakat sebagai jalur penghubung strategis Nusawiru–Batukaras.
Pembangunan Jembatan Sodongkopo berada di bawah pengelolaan UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah Pelayanan (PJJWP) V Tasikmalaya yang dipimpin oleh Kustoyo. Infrastruktur ini dibangun untuk menggantikan jembatan darurat tipe Bailey yang sebelumnya digunakan warga untuk menyeberangi Sungai Cijulang.
Tahap pertama pembangunan dimulai pada 2023 sebagai bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam meningkatkan kualitas dan keselamatan infrastruktur jalan. Pada tahap awal tersebut, anggaran sebesar Rp 74 miliar dialokasikan untuk pekerjaan struktur dasar, pondasi, serta persiapan desain jembatan baja pelengkung.
Baca Juga:Rusaknya Daerah Hulu Dituding Menjadi Penyebab Banjir CirebonProgram Padat Karya Tunai di Tasikmalaya Diduga Terindikasi KKN, P3KN Siap Laporkan ke KPK-RI
Menurut Kustoyo, pembangunan Jembatan Sodongkopo dirancang tidak hanya sebagai penghubung fisik, tetapi juga sebagai pendorong aktivitas ekonomi masyarakat. “Jembatan ini diharapkan dapat meningkatkan kelancaran mobilitas warga serta mendukung pertumbuhan ekonomi, khususnya sektor pariwisata di Pangandaran,” ujarnya.
Pembangunan kemudian dilanjutkan pada tahap kedua pada April 2025 dengan nilai kontrak sebesar Rp 55,4 miliar dan masa pelaksanaan selama 255 hari kerja. Pada Agustus 2025, pelengkung baja sepanjang 140 meter berhasil disambungkan di bagian tengah, menandai kemajuan signifikan pekerjaan konstruksi.
Progres pembangunan terus meningkat, dengan capaian sekitar 50 persen pada Oktober 2025 dan mencapai 81,28 persen pada Desember 2025. Seluruh pekerjaan fisik utama rampung pada akhir 2025 sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Secara teknis, Jembatan Sodongkopo mengusung desain steel arch bridge tanpa pilar penyangga di tengah sungai. Desain ini dinilai lebih aman terhadap aliran Sungai Cijulang serta memberikan nilai estetika. Jembatan ini juga dilengkapi jalur pejalan kaki yang terbuka dan berpotensi menjadi ruang publik baru.
“Dari sisi teknis, kami memastikan seluruh pekerjaan dilaksanakan sesuai spesifikasi dan standar keselamatan yang berlaku, sehingga jembatan ini aman dan nyaman digunakan masyarakat,” kata Kustoyo menegaskan.
Sejak difungsikan secara terbatas pada awal Januari 2026, jembatan ini telah dilalui masyarakat, terutama pengendara roda dua. Kehadiran Jembatan Sodongkopo diharapkan menjadi penopang konektivitas jangka panjang sekaligus ikon baru pembangunan infrastruktur yang memperkuat daya saing pariwisata Pangandaran. (Sahala)
