Dinamikareview.com – Sejak 1 Juli 2020, tongkat kepemimpinan Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Provinsi Jawa Barat berada di tangan Dikky Achmad Sidik, S.T., M.T. Di tengah kompleksitas persoalan air—mulai dari banjir, kekeringan, hingga degradasi kualitas sungai—Dikky tampil sebagai figur teknokrat yang konsisten menempatkan perencanaan, ketelitian, dan kesinambungan sebagai fondasi kebijakan pengelolaan sumber daya air di Jawa Barat.
Hingga awal 2026, Dikky masih dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala DSDA Jawa Barat. Kepercayaan ini tidak lepas dari rekam jejak kepemimpinannya yang stabil dan terukur. Pada awal Januari 2026, ia memimpin Apel Pagi Perdana di Gedung Kertamukti, sebuah forum internal yang dimanfaatkan untuk mengevaluasi kinerja tahun sebelumnya sekaligus memaparkan agenda strategis tahunan. Pendekatan yang sistematis dan berbasis data menjadi ciri kepemimpinannya dalam mengarahkan organisasi.
Di luar jabatan strukturalnya, Dikky juga kerap dipercaya mengemban peran strategis lain. Pada September 2024, ia dilantik sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Bandung, menunjukkan kapasitas kepemimpinannya yang lintas sektor. Di ranah profesi, ia aktif sebagai Ketua Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) Cabang Jawa Barat, sebuah posisi yang menegaskan reputasinya sebagai praktisi sekaligus pemikir di bidang sumber daya air.
Baca Juga:Kepala Sekolah dan Bendahara, Titik Rawan Korupsi Dana BOSDana PIP Diduga Dipotong di SMAN 1 Cikalong, Hak Siswa Terancam Dilanggar
Rekam jejak Dikky di lingkungan pengelolaan sumber daya air terbilang panjang. Sebelum menjabat kepala dinas, ia pernah memimpin sejumlah unit strategis, antara lain sebagai Kepala Bidang Perencanaan Teknik dan Kepala UPTD PSDA Wilayah Sungai Ciwulan–Cilaki. Pengalaman teknis dan lapangan tersebut membentuk perspektif kepemimpinan yang memahami detail persoalan sekaligus konteks wilayah secara utuh.
Salah satu capaian penting DSDA Jawa Barat di bawah kepemimpinannya tercermin pada pengelolaan Wilayah Sungai (WS) Citarum. Melalui program Citarum Harum, kualitas air menunjukkan perbaikan yang melampaui target, sementara risiko banjir berhasil ditekan melalui pembangunan kolam retensi seperti Cieuntung dan Andir, serta pengerukan sedimen di lima titik oxbow. Pendekatan terpadu antara infrastruktur dan pemulihan lingkungan menjadi kunci keberhasilan program ini.
Di WS Ciliwung–Cisadane, fokus diarahkan pada pengendalian banjir dan konservasi sungai. Normalisasi Sungai Ciliwung yang mengembalikan lebar sungai hingga 35–50 meter menjadi capaian krusial dalam meningkatkan kapasitas aliran dan mitigasi banjir saat curah hujan tinggi. Sementara itu, di WS Cimanuk–Cisanggarung, pengelolaan irigasi dan ketahanan air mendukung ketahanan pangan nasional, dengan optimalisasi irigasi di area lebih dari 665.000 hektar serta keberhasilan tanam hingga musim ketiga di sejumlah wilayah pertanian.
